Pagi itu, seorang pria
tampak turun dari mobil mewahnya. Ia bermaksud untuk membeli sebuah kado
di kompleks pertokoan itu. Besok adalah hari Ibu, dan ia bermaksud
untuk membeli lalu mengirimkan sebuah hadiah lewat pos untuk ibunya di
kampung. Seorang Ibu yang pernah ia tinggal pergi beberapa tahun lalu
untuk kuliah, mencari nafkah, dan mengejar kesuksesan di kota besar ini.
Langkah-langkah pria itu terhenti di depan sebuah toko bunga. Ia
melihat seorang gadis cantik. Ternyata, gadis itu adalah adik tingkatnya
semasa kuliah dulu. Gadis itu terlihat sedang memandangi lesu rangkaian
bunga-bunga indah di etalase. Matanya terlihat dengan jelas tengah
berkaca-kaca, air mata nya hendak meleleh, seperti akan menangis.
Pria itu bertanya “Ada apa denganmu? Ada apa dengan bunga-bunga itu?”
“Aku ingin memberi salah satu rangkaian bunga mawar ini untuk ibu
saya,” gadis cantik itu melanjutkan, “Seumur hidup, saya belum pernah
memberikan bunga seindah ini untuk ibu.”
“Kenapa tidak kau beli saja? Ini bagus, kok.” Cerita pria tersebut sambil turut mengamati salah satu karangan bunga.
“Uang saya tidak cukup.”
“Ya sudah, pilih saja salah satu, aku yang akan membayarnya.” Pria itu menawarkan diri sambil tersenyum.
Akhirnya gadis itu mengambil salah satu karangan bunga. Dengan
ditemani sang pria, gadis itu lalu menuju kasir. Pria itu juga
menawarkan diri mengantar si gadis pulang ke rumah untuk memberikan
bunga itu kepada ibunya. Gadis itu pun bersedia.
Dua orang itu lalu melaju menggunakan mobil menuju ke sebuah tempat
yang ditunjukkan oleh si gadis. Hati pria itu terperanjat ketika gadis
cantik itu ternyata mengajaknya ke sebuah kompleks pemakaman umum.
Setelah memarkir mobil, pria itu lalu mengikuti langkah-langkah si
gadis. Dengan sangat terharu gadis itu lalu meletakkan karangan bunga
itu ke makam ibunya. Seorang ibu yang memang belum pernah dilihat gadis
itu seumur hidupnya. Ibu itu dulu meninggal saat melahirkan gadis itu.
Melihat kejadian itu, setelah mengantarkan gadis itu pulang ke rumah,
sang pria membatalkan niatnya untuk membeli dan mengirimkan kado bagi
ibunya.
Siang itu juga, pemuda sukses itu langsung memacu mobilnya.. pulang
ke kampungnya.. untuk melihat wajah ibu yang dia rindukan selama ini..
untuk bersujud di bawah kakinya dan memeluk erat tubuh dan hati
lembutnya.
Pipa kosong menghembuskan angin. Kepala kosong menghasilkan kegelapan.
Alkisah, ada sepasang
kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan
merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita
adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik,
lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria
jatuh hati.
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah,
dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga,
orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia
sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita
tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus
berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya,
sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu,
umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya
agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal
membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang
menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan
untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun
ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang
pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam
kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah
ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat
terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian
memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka
satu-satunya.
Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan
agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya
lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk
membiayai hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar
bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota
ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria,
bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan
akan sangat sulit.
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan
sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah
dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia
kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang
yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia
sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa
keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah
melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama
dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia
tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.
Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia
terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota
itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
---------=========000000000=========---------
Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi
seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan
malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia
bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2
tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia
melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.
Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya.
Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras.
Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat.
Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya
pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja
kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga
meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk
memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun
lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin,
karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum
terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa,
untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.
Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.
Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad
mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya
yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah
berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri,
sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat
sangat...
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan
sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya
sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang
dilakukan oleh sang ibu.
---------=========000000000=========---------
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang
tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di
hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Shang Zhi You Mama Hao"
(terjemahannya, "Di Dunia ini, Ibulah yang terbaik").
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai
penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.
Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak
terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak
keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena
ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?" tanya sang
pemilik toko.. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata sang anak
dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam
tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.
Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu
mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?".
"Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku.
Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini,
saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan
uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini
semua untuk ibuku. Oh ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan
marah" kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak
segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan
tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari
mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau
menjawab.
"Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak
ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah
ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
telah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu
sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak
menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya.
Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke
rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.
"Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah
satu tetangganya yang merupakan familinya.
Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.
Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk
menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko,
memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.
"Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak
boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti nasehat
kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2
muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia
juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya
pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk
mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal
tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak
kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu?."Maafkan saya,
Nak."
"Tidak Bu, saya yang bersalah"
---------=========000000000=========---------
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi
istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan
hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.
Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah
kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru
menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri.
Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua
biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik
tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu
ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
---------=========000000000=========---------
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter
mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang
konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.
Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi
biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu
kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat.
Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,
karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya
berkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira
sekali, menyanyikan lagu "Shi Shang Zhi You Mama Hao", lagu kesayangan
mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia
hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.
Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang
anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan
ibu. "Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata ibu.
"Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu
bekerja lagi, Bu", kata sang anak.
Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat
senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang
anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya,
sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu", teriak
sang anak dengan nada yang polos.
Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata "Nak, kamu harus
dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan
bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu,
saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau
saya lagi", sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak
anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu
menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan
menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik.
Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong
urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin
tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh
diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.
---------=========000000000=========---------
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan
kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap
menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.
Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal
ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan
setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan
ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang
sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah
kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk
di depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi."
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak
sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah
mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi
tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai
melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang
ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya
menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus,
dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya,
saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis
ia memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya
pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata,
bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im
yang welas asih.
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan,
demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk
dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh
dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah...
---------=========000000000=========---------
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku
kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya.
Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah
banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi hasilnya
nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama
dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil,
di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.
Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun
bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis
tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap
dengan lemah
"Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?"
Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu "Shi Shang Zhi You Mama Hao" dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.
Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang
selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk
pengemis tua itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya, "Apakah kamu ??..(nama anak itu)?"
"Benar bu, saya adalah anak ibu?".
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi...
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi
hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari
anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang
menganggapnya sebagai orang gila.
Jika
seseorang bergerak maju ke arah mimpi-mimpinya, ia akan bertemu dengan
kesuksesan yang tidak diharapkan dalam keadaan biasa.

Pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil.
Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak
menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu - dan
sebagai rakyat jelata - merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk,
bibit, dan kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan
apa-apa lagi. Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.
Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan
memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan
meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.
Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu,
“Apakah kalian tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti
ini ?”
“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan
itu yang kita miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.
“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?”
tanya orang bijaksana sekali lagi.
Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”
“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan,
“Pertama-tama, ambil tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !”
perintah orang bijaksana sambil menunjuk tiga buah batu sebesar kepalan tangan.
Orang-orang pun mengikuti perintahnya.
Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di
permukaannya. Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci
yang paling besar dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan air. Ketiga batu
bersih itupun lalu dimasukkan ke dalam panci - dan sesuai dengan petunjuk orang
bijaksana itu - batu-batu itupun mulai direbus.
“Ada yang dari kalian tau bumbu masak ? Batu-batu itu tidak akan enak
rasanya jika dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.
“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan
bumbu dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.
“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?”
Tanya orang bijaksana itu. “Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan
beberapa bahan lain, jangan cuma batu saja.”
Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa
waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami
menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.”
Katanya. Kemudian orang itu mengupas, encuci, dan memotong-motong kentang-kentang
itu dan memasukkannya ke dalam panci.
Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa buncis dan sawi.
“Aku masih punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.”
Kata ibu itu, lalu ibu itu meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.
Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku
berhasil memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa
membawa lebih lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci
di balik bukit itu.” Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun
disembelih dan diolah kemudian dimasukkan ke dalam panci.
Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk
yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat
dimasukkan ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu.
Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung,
dan bermacam-macam sayuran lain. Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-macam
buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa dijadikan
pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa susu
dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang
bersarang di beberapa pohon di desa itu.
Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu
sekarang telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka
cita, penduduk itu makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang,
hingga mereka lupa ‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.
Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu.
Dan mereka pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan.
Mereka mohon diri untuk meninggalkan desa itu.
Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong memeluk dan menciumi
ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari kami untuk
membuat sup dari batu....”
Barang siapa yang merasa sudah mencapai semua cita-citanya, mungkin telah memilih cita-cita yang terlalu rendah.

Pada zaman Chun Qiu ada
seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya, namanya Xin Shi. Xin
Shi diakui sebagai salah satu dari empat wanita tercantik sepanjang
perjalanan sejarah bangsa China. Karena itu, jika kita berjalan-jalan ke
negeri China, ada eksesori dengan gambar empat wanita tercantik di
China, salah satu di antaranya Xin Shi. Sayangnya Xin Shi yang cantik
saat itu sakit-sakitan. Wajahnya pucat dan ia sering mengeluh sakit di
bagian dadanya.
Akan tetapi, saat ia meringis kesakitan, orang yang melihatnya masih
mengatakan bahwa dia tetaplah cantik. Tak mengherankan ada orang-orang
saat itu mengatakan, “Meskipun sakit dan wajahnya pucat, Xin Shi masih
tetap kelihatan cantik.”
Xin Shi mempunyai tetangga yang juga adalah seorang gadis, namanya
Dong Shi. Ketika makin lama makin banyak orang yang memuji Xin Shi, Dong
Shi merasa tidak suka dan iri hati. Karena itu kepada orang banyak ia
berbicara, “Apa lebihnya Xin Shi, apalagi wajahnya yang sering pucat dan
meringis menahan sakit. Sebenarnya kecantikanku tidak jauh beda dengan
Xin Shi.” Tetapi setiap orang yang mendengar ucapannya selalu tertawa
sinis sambil berlalu. Hal itu membuat Dong Shi semakin membenci Xin Shi.
Ia selalu berpikir, “Aku harus bagaimana supaya orang memujiku dan
tidak terus menerus memuji Xin Shi?”
Suatu hari penyakit Xin Shi kumat lagi, tetapi saat itu ia tidak bisa
istirahat. Ia harus pergi ke sungai untuk mencuci kain tenun. Karena
itu, satu tangannya memegang keranjang berisi kain tenun dan satu tangan
lagi memegang dadanya yang sakit. Ia pun tidak bisa berjalan cepat
menuju sungai. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Dong Shi. Dong
Shi melihat wajah Xin Shi pucat pasi dan meringis kesakitan. Awalnya
Dong Shi sangat marah dan berkata lirih, “Orang ini yang dibilang
‘walaupun kesakitan tetapi tetap cantik’, tetapi pada pemandangan saya
tidaklah demikian!” Lalu Dong Shi sungguh-sungguh melihat wajah Xin Shi
yang sedang menahan sakit tersebut dan dalam hati ia berkata, “Wah,
ternyata memang pendapat banyak orang benar bahwa walau menahan sakit,
Xin Shi tetap terlihat cantik! Aku tidak boleh terus-menerus iri dan
membencinya. Orang akan semakin tidak suka kepadaku. Sebenarnya aku
harus bagaimana?”
Ia menyaksikan Xin Shi makin lama berjalan menjauhinya. Ia terus
berpikir dan berpikir dan akhirnya mendapat ide, “Xin Shi dengan
wajahnya yang tampak sakit terlihat cantik oleh orang-orang , pasti baik
jika aku berjalan di belakangnya dan berpura-pura sakit juga seperti
dia. Mungkin hanya dengan cara ini orang juga bisa melihat
kecantikanku.” Lalu, ia tersenyum gembira dan berlari supaya tidak
terlalu jauh dari Xin Shi. Ketika ia berjalan mengikuti Xin Shi, ada
seorang nenek tua. Lalu Dong Shi segera berpura-pura sakit.
Waktu nenek itu memperhatikan orang yang berjalan di belakang Xin
Shi, dan ternyata adalah Dong Shi, nenek tua itu ingin menolongnya.
“Nona Dong Shi kamu sakit apa?” tanya nenek itu. Dong Shi pun balik
bertanya kepada nenek tua itu, “Nenek, jika penampilanku seperti ini
apakah aku tambah cantik seperti Xin Shi?”
Waktu nenek itu mendengar pertanyaan itu, ia jadi mengerti bahwa Dong
Shi cuma berpura-pura sakit. Nenek tua itu pun tidak dapat menahan
tawanya, dan ia tertawa lepas sekali. Setiap kali bertemu orang, Dong
Shi selalu mendapat respon yang sama, orang pada tertawa. Dong Shi
berpikir orang-orang mulai memuji dan menyukainya, tetapi lama-kelamaan
ia paham bahwa orang-orang mengejeknya. Akibatnya, dengan marah ia
bertanya kepada orang-orang banyak yang kebetulan berkumpul di suatu
tempat, “Kenapa kalian menertawakanku? Bukankah kalian berpendapat wajah
Xin Shi yang sakit juga terlihat cantik. Kenapa waktu wajahku tampaknya
sakit kalian tidak menyebutku cantik?” Ketika mendengar ucapan Dong Shi
mereka pun berhenti tertawa.
Di antara orang tersebut ada yang menyahutnya, “Gadis bodoh, Xin Shi
pada dasarnya memang sangat cantik. Jadi, walaupun dia tampak pucat dan
kesakitan ia tetap kelihatan cantik. Kamu bukanlah Xin Shi. Kalau kamu
berpura-pura sakit seperti ini bukan tambah cantik, tetapi tambah
jelek!”
Wajah Dong Shi merah padam saat mendengar perkataan orang itu. Dong
Shi malu dan akhirnya mengetahui bahwa perkataan dan tanggapan orang
yang ditemuinya itu benar. Akhirnya ia berlari dengan cepat pulang ke
rumah. Mulai saat itu ia tidak lagi ingin meniru wajah Xin Shi yang
tampak kesakitan karena ia sudah tahu dengan pasti Dong Shi bukanlah Xin
Shi.
Sejak saat itu orang di negeri China selalu mengatakan orang yang suka meniru orang lain dengan sebutan Dong Shi Xiao Pin.
Mutiara Hikmat :
Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri. tidak
perlu merasa iri karena orang memuji penampilan orang lain dan tidak
terlalu memuji penampilan diri kita. belajar mengakui kelebihan orang
lain dan memperbaiki kekurangan diri sendiri itu sering membuat hidup
akan lebih baik ketimbang iri terhadap kelebihan orang lain dan berusaha
untuk menjadi orang lain atau bahkan menjelekan orang lain.
Diri kita di ciptakan sama berharganya dengan orang lain, kita pasti
punya kelebihan tersendiri. Oleh karena itu, Kelebihan yang ada yang
kita miliki perlu kita asah dan kembangkan dengan baik. Jika kita
mencoba meniru-niru supaya mirip dengan orang lain maka hasilnya
kemungkinan besar adalah orang menertawakan kita karena kita akan tampak
mengelikan.
Orang yang tidak pernah jatuh adalah biasa. Tetapi orang yang setiap kali jatuh dan mampu bangun kembali, itu baru luar biasa.

Kita semua pasti kenal tokoh
si Untung di komik Donald Bebek. Berlawanan dengan Donald yang selalu sial.
Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri
tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup
si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donald.
Jika Untung dan Donald berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang
dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti
si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.
Professor Richard Wiseman
dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan
orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa
hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang
kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti.
Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang
sial.
Misalnya, dalam salah satu
penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa
jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari
kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini.
Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho
kok bisa?
Ya, karena sebelumnya pada
halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti
menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan
tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2
koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung
sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!”
Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.
Singkatnya, dari penelitian
yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang
membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:
1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata
memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang,
pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal
ini dimungkinkan?
Ternyata orang-orang yg beruntung
memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an
baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal,
dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang
sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett
Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata
nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang
wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian
sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung.
Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah
Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang
menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya,
dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg
yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan
bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet
setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.
2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata
lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang
dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar
bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang
canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari
“gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah,
bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan
penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda
untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada
kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah
diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
Banyak teman saya yang bertanya,
“mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang
terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak
seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya,
bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subyektif, mungkin
saja ada orang yang beneran denger suara.
Tapi kalau pengalaman saya,
sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
- Isyarat dari badan. Anda
pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki
kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu
yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal
gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan.
Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan
sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya
suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu.
Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih
terjadi untuk beberapa hal lain.
3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata
selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan
datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap
ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan
orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang
sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan
menceritakan optimisme dan harapan.
4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat
pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka
setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman
meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut
diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi
mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener
ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya
adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya
untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya
untung terus.
Mereka dengan cepat mampu
beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.
Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung,
Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat
“Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus
mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.
Mereka dilarang keras menuliskan
kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu
keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan
yg mereka tuliskan.
Dan ketika mereka melihat
beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya
mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan
betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada
hidup mereka.
Jadi, sesederhana itu rahasia
si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk termans semua.
Siap mulai menjadi si Untung?
Banyak orang kesepian karena mereka membangun tembok, bukan jembatan.