
Pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil.
Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak
menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu - dan
sebagai rakyat jelata - merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk,
bibit, dan kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan
apa-apa lagi. Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.
Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan
memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan
meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.
Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu,
“Apakah kalian tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti
ini ?”
“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan
itu yang kita miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.
“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?”
tanya orang bijaksana sekali lagi.
Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”
“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan,
“Pertama-tama, ambil tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !”
perintah orang bijaksana sambil menunjuk tiga buah batu sebesar kepalan tangan.
Orang-orang pun mengikuti perintahnya.
Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di
permukaannya. Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci
yang paling besar dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan air. Ketiga batu
bersih itupun lalu dimasukkan ke dalam panci - dan sesuai dengan petunjuk orang
bijaksana itu - batu-batu itupun mulai direbus.
“Ada yang dari kalian tau bumbu masak ? Batu-batu itu tidak akan enak
rasanya jika dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.
“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan
bumbu dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.
“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?”
Tanya orang bijaksana itu. “Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan
beberapa bahan lain, jangan cuma batu saja.”
Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa
waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami
menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.”
Katanya. Kemudian orang itu mengupas, encuci, dan memotong-motong kentang-kentang
itu dan memasukkannya ke dalam panci.
Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa buncis dan sawi.
“Aku masih punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.”
Kata ibu itu, lalu ibu itu meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.
Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku
berhasil memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa
membawa lebih lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci
di balik bukit itu.” Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun
disembelih dan diolah kemudian dimasukkan ke dalam panci.
Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk
yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat
dimasukkan ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu.
Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung,
dan bermacam-macam sayuran lain. Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-macam
buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa dijadikan
pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa susu
dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang
bersarang di beberapa pohon di desa itu.
Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu
sekarang telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka
cita, penduduk itu makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang,
hingga mereka lupa ‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.
Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu.
Dan mereka pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan.
Mereka mohon diri untuk meninggalkan desa itu.
Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong memeluk dan menciumi
ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari kami untuk
membuat sup dari batu....”
Barang siapa yang merasa sudah mencapai semua cita-citanya, mungkin telah memilih cita-cita yang terlalu rendah.

Pada zaman Chun Qiu ada
seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya, namanya Xin Shi. Xin
Shi diakui sebagai salah satu dari empat wanita tercantik sepanjang
perjalanan sejarah bangsa China. Karena itu, jika kita berjalan-jalan ke
negeri China, ada eksesori dengan gambar empat wanita tercantik di
China, salah satu di antaranya Xin Shi. Sayangnya Xin Shi yang cantik
saat itu sakit-sakitan. Wajahnya pucat dan ia sering mengeluh sakit di
bagian dadanya.
Akan tetapi, saat ia meringis kesakitan, orang yang melihatnya masih
mengatakan bahwa dia tetaplah cantik. Tak mengherankan ada orang-orang
saat itu mengatakan, “Meskipun sakit dan wajahnya pucat, Xin Shi masih
tetap kelihatan cantik.”
Xin Shi mempunyai tetangga yang juga adalah seorang gadis, namanya
Dong Shi. Ketika makin lama makin banyak orang yang memuji Xin Shi, Dong
Shi merasa tidak suka dan iri hati. Karena itu kepada orang banyak ia
berbicara, “Apa lebihnya Xin Shi, apalagi wajahnya yang sering pucat dan
meringis menahan sakit. Sebenarnya kecantikanku tidak jauh beda dengan
Xin Shi.” Tetapi setiap orang yang mendengar ucapannya selalu tertawa
sinis sambil berlalu. Hal itu membuat Dong Shi semakin membenci Xin Shi.
Ia selalu berpikir, “Aku harus bagaimana supaya orang memujiku dan
tidak terus menerus memuji Xin Shi?”
Suatu hari penyakit Xin Shi kumat lagi, tetapi saat itu ia tidak bisa
istirahat. Ia harus pergi ke sungai untuk mencuci kain tenun. Karena
itu, satu tangannya memegang keranjang berisi kain tenun dan satu tangan
lagi memegang dadanya yang sakit. Ia pun tidak bisa berjalan cepat
menuju sungai. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Dong Shi. Dong
Shi melihat wajah Xin Shi pucat pasi dan meringis kesakitan. Awalnya
Dong Shi sangat marah dan berkata lirih, “Orang ini yang dibilang
‘walaupun kesakitan tetapi tetap cantik’, tetapi pada pemandangan saya
tidaklah demikian!” Lalu Dong Shi sungguh-sungguh melihat wajah Xin Shi
yang sedang menahan sakit tersebut dan dalam hati ia berkata, “Wah,
ternyata memang pendapat banyak orang benar bahwa walau menahan sakit,
Xin Shi tetap terlihat cantik! Aku tidak boleh terus-menerus iri dan
membencinya. Orang akan semakin tidak suka kepadaku. Sebenarnya aku
harus bagaimana?”
Ia menyaksikan Xin Shi makin lama berjalan menjauhinya. Ia terus
berpikir dan berpikir dan akhirnya mendapat ide, “Xin Shi dengan
wajahnya yang tampak sakit terlihat cantik oleh orang-orang , pasti baik
jika aku berjalan di belakangnya dan berpura-pura sakit juga seperti
dia. Mungkin hanya dengan cara ini orang juga bisa melihat
kecantikanku.” Lalu, ia tersenyum gembira dan berlari supaya tidak
terlalu jauh dari Xin Shi. Ketika ia berjalan mengikuti Xin Shi, ada
seorang nenek tua. Lalu Dong Shi segera berpura-pura sakit.
Waktu nenek itu memperhatikan orang yang berjalan di belakang Xin
Shi, dan ternyata adalah Dong Shi, nenek tua itu ingin menolongnya.
“Nona Dong Shi kamu sakit apa?” tanya nenek itu. Dong Shi pun balik
bertanya kepada nenek tua itu, “Nenek, jika penampilanku seperti ini
apakah aku tambah cantik seperti Xin Shi?”
Waktu nenek itu mendengar pertanyaan itu, ia jadi mengerti bahwa Dong
Shi cuma berpura-pura sakit. Nenek tua itu pun tidak dapat menahan
tawanya, dan ia tertawa lepas sekali. Setiap kali bertemu orang, Dong
Shi selalu mendapat respon yang sama, orang pada tertawa. Dong Shi
berpikir orang-orang mulai memuji dan menyukainya, tetapi lama-kelamaan
ia paham bahwa orang-orang mengejeknya. Akibatnya, dengan marah ia
bertanya kepada orang-orang banyak yang kebetulan berkumpul di suatu
tempat, “Kenapa kalian menertawakanku? Bukankah kalian berpendapat wajah
Xin Shi yang sakit juga terlihat cantik. Kenapa waktu wajahku tampaknya
sakit kalian tidak menyebutku cantik?” Ketika mendengar ucapan Dong Shi
mereka pun berhenti tertawa.
Di antara orang tersebut ada yang menyahutnya, “Gadis bodoh, Xin Shi
pada dasarnya memang sangat cantik. Jadi, walaupun dia tampak pucat dan
kesakitan ia tetap kelihatan cantik. Kamu bukanlah Xin Shi. Kalau kamu
berpura-pura sakit seperti ini bukan tambah cantik, tetapi tambah
jelek!”
Wajah Dong Shi merah padam saat mendengar perkataan orang itu. Dong
Shi malu dan akhirnya mengetahui bahwa perkataan dan tanggapan orang
yang ditemuinya itu benar. Akhirnya ia berlari dengan cepat pulang ke
rumah. Mulai saat itu ia tidak lagi ingin meniru wajah Xin Shi yang
tampak kesakitan karena ia sudah tahu dengan pasti Dong Shi bukanlah Xin
Shi.
Sejak saat itu orang di negeri China selalu mengatakan orang yang suka meniru orang lain dengan sebutan Dong Shi Xiao Pin.
Mutiara Hikmat :
Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri. tidak
perlu merasa iri karena orang memuji penampilan orang lain dan tidak
terlalu memuji penampilan diri kita. belajar mengakui kelebihan orang
lain dan memperbaiki kekurangan diri sendiri itu sering membuat hidup
akan lebih baik ketimbang iri terhadap kelebihan orang lain dan berusaha
untuk menjadi orang lain atau bahkan menjelekan orang lain.
Diri kita di ciptakan sama berharganya dengan orang lain, kita pasti
punya kelebihan tersendiri. Oleh karena itu, Kelebihan yang ada yang
kita miliki perlu kita asah dan kembangkan dengan baik. Jika kita
mencoba meniru-niru supaya mirip dengan orang lain maka hasilnya
kemungkinan besar adalah orang menertawakan kita karena kita akan tampak
mengelikan.
Orang yang tidak pernah jatuh adalah biasa. Tetapi orang yang setiap kali jatuh dan mampu bangun kembali, itu baru luar biasa.

Kita semua pasti kenal tokoh
si Untung di komik Donald Bebek. Berlawanan dengan Donald yang selalu sial.
Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri
tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup
si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donald.
Jika Untung dan Donald berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang
dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti
si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.
Professor Richard Wiseman
dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan
orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa
hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang
kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti.
Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang
sial.
Misalnya, dalam salah satu
penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa
jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari
kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini.
Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho
kok bisa?
Ya, karena sebelumnya pada
halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti
menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan
tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2
koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung
sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!”
Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.
Singkatnya, dari penelitian
yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang
membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:
1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata
memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang,
pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal
ini dimungkinkan?
Ternyata orang-orang yg beruntung
memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an
baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal,
dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang
sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett
Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata
nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang
wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian
sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung.
Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah
Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang
menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya,
dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg
yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan
bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet
setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.
2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata
lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang
dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar
bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang
canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari
“gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah,
bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan
penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda
untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada
kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah
diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
Banyak teman saya yang bertanya,
“mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang
terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak
seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya,
bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subyektif, mungkin
saja ada orang yang beneran denger suara.
Tapi kalau pengalaman saya,
sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
- Isyarat dari badan. Anda
pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki
kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu
yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal
gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan.
Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan
sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya
suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu.
Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih
terjadi untuk beberapa hal lain.
3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata
selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan
datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap
ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan
orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang
sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan
menceritakan optimisme dan harapan.
4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat
pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka
setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman
meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut
diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi
mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener
ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya
adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya
untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya
untung terus.
Mereka dengan cepat mampu
beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.
Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung,
Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat
“Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus
mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.
Mereka dilarang keras menuliskan
kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu
keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan
yg mereka tuliskan.
Dan ketika mereka melihat
beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya
mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan
betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada
hidup mereka.
Jadi, sesederhana itu rahasia
si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk termans semua.
Siap mulai menjadi si Untung?
Banyak orang kesepian karena mereka membangun tembok, bukan jembatan.
Pada suatu hari
sepasang suami istri yang baru menikah, berbulan madu di Cina. Saat
berjalan-jalan di sebuah galeri seni, mereka menemukan sebuah guci yang
indah sekali. Mereka melihat harga yang tercantum di label guci itu,
tertulis angka 40.000 USD !
“Sangat mahal” kata si istri.
“Ya, tentu !” tiba-tiba pelayan galeri itu berkata, “Guci ini dibuat
sekitar 400 tahun lalu, sangat klasik, tetapi tetap indah dan utuh,
karena ia dibuat oleh seorang maestro seni yang luar biasa, pembuatnya
adalah seniman sejati, guci yang dibuatnya selalu berkualitas tinggi dan
bernilai seni tinggi, sekalipun sudah berusia ratusan tahun.
“Tak disangka, guci itu tiba-tiba berkata.
“Tak tahukah kalian bahwa aku sebenarnya hanya seonggok tanah liat bau yang tak berguna?”
Orang-orang itu hanya melongo,
“Saat itu tuanku menemukan aku, memukul-mukulkan aku pada sebuah
papan, hingga pasir dan kerikil dalam tubuhku keluar semua.. sakit
sekali rasanya”
Sang guci melanjutkan ceritanya.
“Tidak hanya itu, selanjutnya ia menaruhku di atas batu yang
berputar; dan dengan segera dia memutar-mutar dan mulai mengikis dan
membentuk tubuhku. Aku tidak tahan.. pusing.. tolong hentikan.. sakit..
itu yang kuteriakkan, tetapi tuanku hanya berkata: belum saatnya”
“Sesudah itu dia meletakkan aku di sebuah ruangan di atas panggangan
api, tahukah kalian, betapa panasnya itu? perlahan-lahan tubuhku yang
lembek dan hitam berubah menjadi kaku dan memerah.. panas.. tolong
hentikan.. itu yang kuteriakkan, tetapi tuanku tersenyum dan hanya
berkata: belum saatnya”
“Sesudah itu, tuanku mengeluarkan dari ruangan itu, dan ia mulai
menggoreskan cat-cat pada tubuhku.. saat tubuhku masih panas dan
memerah.. pedih sekali rasanya.. seluruh kulitku terasa seperti disiram
api.. aku hanya bisa menangis dan berkata.. tolong hentikan.. aku tidak
kuat.. tetapi tuanku berkata: belum saatnya”
“Sesudah tubuhku berlumuran cat, tuanku memasukkanku lagi ke ruangan
tadi dan mulai memanggangku lagi.. kali ini panas yang kurasakan luar
biasa, mungkin beberapa kali lipat dari panas yang tadi… tolooong..
sakiiitt…. itu yang bisa kuucapkan, tetapi tuanku hanya berkata: belum
saatnya, tinggal sebentar lagi”
“Setelah beberapa jam di panggangan itu, aku mulai melihat kulitku
perlahan-lahan mulai memutih dan sangat keras.. lebih keras dari
sebelumnya.. sakit dari sekujur tubuhku aku rasakan. Perlahan-lahan
tuanku mengeluarkan aku dari ruangan itu.. membersihkan tubuhku dengan
lap sutra dan memberiku tempat di atas sebuah meja yang indah..”
“Beberapa hari kemudian, sakitku mulai hilang, dan ajaib, aku merasa
sangat kuat. Perlahan-lahan aku mulai sadar, bahwa aku telah berubah
menjadi guci yang sangat cantik, seorang raja bersedia membeliku dengan
harga yang sangat tinggi”
“Semenjak itu, aku tidak pernah bertemu dengan tuanku lagi, tetapi
yang aku tahu, semenjak raja itu membeliku, aku selalu berada di tempat
yang indah dan tinggi, agar semua orang bisa melihatku, semua orang
bangga dapat memiliki dan melihat aku, aku pun yakin kalian semua pasti
ingin berfoto didekatku. Dulu, pernah ada dua kerajaan bertempur cuma
gara-gara memperebutkan aku…”
“Oohh betapa bahagianya aku, seandainya bisa bertemu dengan tuanku
sekali lagi.. aku ingin mengucapkan terima kasih.. akan karyanya yang
sangat indah di hidupku”
Visi
adalah kemampuan untuk mendengarkan musik di masa depan. Keyakinan
adalah kemampuan untuk menari diiringi oleh musik itu sekarang.
Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah terkenal,
dengan judul: "Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria
kaya?"
Isi suratnya sebagai berikut:
Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini.
Tahun ini saya berumur 25 tahun. Saya sangat cantik, mempunyai selera yang
bagus akan fashion. Saya ingin menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal
$500ribu/tahun.
Anda mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya dianggap
sebagai kelas menengah di New York. Persyaratan saya tidak tinggi.
Apakah ada di forum ini yang mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? Apakah kalian
semua sudah menikah?
Yang saya ingin tanyakan: Apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang
kaya seperti anda?
Yang terkaya pernah berkencan dengan saya hanya berpenghasilan $250rb/tahun.
Bila seseorang ingin pindah ke area pemukiman elit di City Garden New York,
penghasilan $250rb/tahun tidaklah cukup.
Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan:
Dimana para lajang2 kaya hang out?
Kisaran umur berapa yang harus saya cari?
Kenapa kebanyakan istri dari orang-orang kaya hanya berpenampilan standar?
Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik,
tapi kok mereka bisa menikahi pria kaya?
Bagaimana anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa yang
hanya bisa menjadi pacar?
ttd,
Si Cantik
---------------------
Dan inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di bidang finansial di Wall
Street:
Saya telah membaca suratmu dengan semangat. Saya rasa banyak gadis2 di luar
sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. Ijinkan saya untuk menganalisa situasimu
sebagai seorang profesional.
Pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap
semuanya tidak berpikir saya main2 di sini.
Dari sisi seorang bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu.
Jawabannya mudah saja, saya coba jelaskan, coba tempatkan "kecantikan"
dan "uang" bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan dengan
uang:
Pihak A menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk
akal.
Tapi ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya tidak
akan hilang tanpa ada alasan yang bagus.
Faktanya, pendapatan saya mungkin sekali akan meningkat dari tahun ke tahun,
tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Karena itu, dari sudut
pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan meningkat terus, dan anda adalah
aset yang akan
menyusut. Dan bukan hanya penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.
Jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat mengkhawatirkan
10 tahun mendatang.
Dari aturan yg kita gunakan di Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi,
kencan dengan anda juga merupakan posisi tukar. Jika nilai tukar turun, kita
akan menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpannya dalam jangka lama, seperti
pernikahan yang anda inginkan.
Mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset
dengan nilai depresiasi besar akan di jual atau "disewa" saja.
siapa saja dengan penghasilan tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya
berkencan dengan anda, tapi tidak akan menikahi anda.
Saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi orang
kaya. Lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan pendapatan $500rb/tahun.
Ini kesempatan lebih bagus daripada mencari orang kaya bodoh. Mudah2an balasan
ini dapat membantu.
ps. Jika anda tertarik untuk jasa "sewa/pinjam," hubungi saya.
ttd,
J.P. Morgan
Seseorang harus terlebih dahulu mengarahkan dirinya sendiri ke arah yang semestinya. Barulah ia dapat mengarahkan orang lain.